KAB. SERANG, Mediabooster.news – Suasana SMAN 1 Pabuaran, Kabupaten Serang, Jumat (6/2/2026), tampak tak seperti hari sekolah biasanya. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang rutin diterima siswa mendadak berubah konsep. Alih-alih dibagikan menggunakan ompreng seperti hari-hari sebelumnya, makanan kali ini disajikan dengan sistem prasmanan.
Pantauan di lokasi, ratusan siswa harus berbaris panjang untuk mengambil makanan. Pemandangan tersebut menyerupai antrean konsumsi pada sebuah acara hajatan. Aktivitas belajar mengajar pun sempat terganggu karena siswa dari berbagai kelas serentak meninggalkan ruang belajar demi mengikuti antrean makan.
Koordinator MBG SMAN 1 Pabuaran, Saifulloh, menegaskan bahwa sistem prasmanan ini baru pertama kali diterapkan di sekolahnya oleh dapur umum MBG. Meski sebelumnya telah dilakukan koordinasi, pelaksanaan di lapangan justru dinilai kurang efektif.
“Setelah dijalankan, ternyata prasmanan ini mengganggu proses belajar mengajar dan merepotkan guru. Karena mau tidak mau semua siswa harus antre dalam waktu bersamaan,” ungkap Saifulloh.
Menurutnya, metode prasmanan juga menyulitkan pengawasan distribusi makanan. Berbeda dengan sistem ompreng yang selama ini dianggap lebih tertib dan terukur.
“Kalau pakai ompreng, jumlahnya jelas. Setiap kelas sudah terdata. Kalau prasmanan seperti ini, jadi tidak terkontrol dan berantakan,” ujarnya.
Saifulloh menjelaskan, alasan dapur MBG menerapkan sistem prasmanan lantaran adanya perubahan waktu pelaksanaan pada hari Jumat yang relatif singkat. Namun, pihak sekolah berharap pola tersebut tidak kembali diterapkan.
“Cukup sekali saja. Ke depan kami berharap kembali ke sistem sebelumnya, karena lebih efektif dan tidak mengganggu kegiatan belajar,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa penyedia MBG di SMAN 1 Pabuaran sebelumnya berasal dari SPPG Pasanggrahan yang baru berjalan sekitar dua minggu, sebelum kemudian dialihkan ke SPPG Pancanegara.
Meski menu MBG disajikan dengan cara berbeda, Saifulloh memastikan kualitas makanan tetap baik. Sebanyak 780 penerima, termasuk tenaga pendidik, mendapatkan jatah MBG tanpa kendala berarti.
“Untuk makanannya cukup baik, siswa juga senang dan tidak ada masalah,” pungkasnya. (dkm)

