SERANG, Mediabooster.news – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cipocok Jaya yang berlokasi di Komp. Puri Kartika Banjarsari Blok B.14 No. 8, Cipocok Jaya, Kota Serang, terus berupaya memastikan makanan yang diberikan kepada penerima manfaat memenuhi kebutuhan gizi sesuai standar.

SPPG yang disebut sebagai SPPG pertama di wilayah Cipocok Jaya, Kota Serang, tersebut melayani 10 sekolah mulai dari jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Secara keseluruhan terdapat 2.734 penerima manfaat, ditambah 351 penerima manfaat kelompok B3 yang terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Pengawas Gizi SPPG Cipocok Jaya, Fina, mengatakan penyusunan menu dilakukan secara mingguan dengan mempertimbangkan kecukupan gizi, variasi makanan, serta daya terima para penerima manfaat.

“Kalau kita membuatnya mingguan, menunya juga mingguan. Nanti kita ganti-ganti menunya. Untuk daging merah biasanya seminggu sekali, selebihnya ayam dan ikan,” ujar Fina, Kamis (27/8/2026).

Menurutnya, setiap menu yang disiapkan tetap melalui perhitungan dan pengecekan kandungan gizinya. Termasuk menu yang disukai anak-anak seperti burger, komposisi makanan tetap disesuaikan agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi.

“Kalau ada menu seperti burger, gizinya juga kita cek. Walaupun dagingnya dalam bentuk burger, komponen lainnya tetap kita cukupi sesuai kebutuhan dan standar,” katanya.

Fina menjelaskan, perhatian terhadap pemenuhan protein menjadi salah satu prioritas dalam penyusunan menu. Hal tersebut terutama berlaku bagi balita serta ibu hamil dan ibu menyusui yang memiliki kebutuhan gizi lebih tinggi.

“Kita lebih fokus ke protein, apalagi pada masa pertumbuhan dan perkembangan balita serta ibu hamil dan menyusui,” jelasnya.

Sementara untuk kelompok B3, bahan makanan pada dasarnya sama dengan menu penerima manfaat lainnya. Namun, pengolahan dan porsi disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok.

“Untuk B3 bahannya sama, tetapi cara memasaknya dibedakan. Porsinya juga lebih banyak karena kebutuhannya lebih tinggi. Untuk balita, makanan dibuat tidak pedas, sayurannya dipotong lebih kecil dan terkadang lebih banyak diberikan makanan berkuah seperti sup,” ungkap Fina.

Dalam menyusun menu, tim gizi juga menghadapi tantangan dalam menjaga agar makanan tetap bervariasi. Salah satu bahan yang dinilai cukup sulit untuk diolah menjadi berbagai menu adalah telur.

“Yang paling sulit itu pengolahan telur. Anak-anak kadang bosan kalau telur hanya dibuat seperti itu-itu saja. Jadi kita mencoba membedakan cara memasaknya, misalnya diceplok, di-steam, dan lainnya,” ujarnya.

Fina menyebutkan, pihaknya tidak hanya mempertimbangkan kecukupan gizi, tetapi juga memperhatikan selera penerima manfaat. Evaluasi dilakukan dengan melihat daya terima makanan yang diberikan kepada siswa.

Jika suatu menu mendapat respons positif dan banyak dikonsumsi, menu tersebut dapat kembali digunakan. Sebaliknya, menu yang kurang diminati akan dievaluasi dan dapat dikurangi penggunaannya.

“Kita lihat juga dari kesukaannya. Masukan dari sekolah dan guru juga menjadi pertimbangan. Kalau daya terimanya bagus, kita gunakan lagi. Kalau kurang, kita evaluasi apa yang perlu diperbaiki,” katanya.

Beberapa makanan yang sebenarnya disukai anak-anak juga tidak selalu dapat digunakan karena adanya ketentuan dari pusat. Fina mencontohkan mi dan makanan bersantan sebagai jenis menu yang tidak digunakan.

“Mi tidak boleh, makanan bersantan juga tidak boleh. Jadi memang kita tidak menggunakan itu. Kita memberikan pengertian kepada anak-anak,” ujarnya.

Sebaliknya, menu seperti ayam dan ikan masih menjadi salah satu makanan yang cukup disukai. Olahan ayam, chicken, serta ikan yang digoreng hingga kering disebut mendapat respons cukup baik dari siswa.

Selain variasi menu, keamanan pangan juga menjadi perhatian. Fina mengatakan SPPG Cipocok Jaya menjalankan prosedur operasional standar (SOP) mulai dari penerimaan bahan, penyimpanan, persiapan, pengolahan, hingga pendistribusian makanan.

“Alhamdulillah sejauh ini kita sudah mengikuti SOP yang ada. Setiap tim memiliki tugas masing-masing, mulai dari penerimaan bahan, persiapan, pengolahan, sampai pendistribusian,” jelasnya.

Pemantauan juga dilakukan terhadap peralatan dapur. Apabila ditemukan alat yang rusak atau mengalami kendala, kondisi tersebut dilaporkan untuk segera ditindaklanjuti. Penggunaan peralatan juga dibedakan berdasarkan fungsi dan warna untuk membantu menjaga proses pengolahan tetap terkontrol.

Menurut Fina, tantangan lain yang dihadapi tim gizi selama menjalankan pelayanan sejak Februari 2025 adalah menjaga kreativitas dalam penyusunan menu agar penerima manfaat tidak merasa bosan.

“Kadang kita juga merasa jenuh karena menu yang sudah dibuat cukup banyak. Tapi itu menjadi tantangan bagi kita untuk terus berkreasi membuat menu baru yang disukai siswa,” tuturnya.

Ia menambahkan, kondisi SPPG saat ini juga mengalami perkembangan dibandingkan masa awal operasional. Dari sisi pembiayaan maupun variasi menu, terdapat sejumlah perubahan yang dinilai membuat pelayanan semakin baik.

Dalam menentukan menu, tim gizi SPPG memiliki keleluasaan untuk menyusun rincian menu, sementara dari pusat terdapat sejumlah batasan umum mengenai makanan yang boleh dan tidak boleh diberikan.

“Dari pusat batasannya lebih umum, misalnya mi tidak boleh dan makanan bersantan tidak boleh. Untuk rincian menunya, tim gizi bersama tim masak yang menentukan,” kata Fina.

Fina menegaskan bahwa penyusunan menu tidak hanya berorientasi pada rasa, tetapi juga harus memperhatikan angka kecukupan gizi. Khusus kelompok B3, pemenuhan protein menjadi perhatian penting karena berkaitan dengan pertumbuhan balita serta kebutuhan ibu hamil dan ibu menyusui.

Ia menilai program pemenuhan gizi akan memberikan dampak apabila makanan dikonsumsi secara rutin dan penerima manfaat dapat menerima menu yang diberikan dengan baik. Karena itu, pemantauan dan evaluasi menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program.

“Kalau makanan yang kita sediakan sesuai kebutuhan, kemudian dimakan dan diterima dengan baik, tentu ada dampaknya. Kita juga melakukan monitoring dan evaluasi untuk melihat perkembangannya,” pungkasnya.

Dengan menggabungkan perhitungan kebutuhan gizi, pemilihan bahan makanan, variasi menu, keamanan pangan, serta evaluasi daya terima siswa, SPPG Cipocok Jaya berupaya memastikan makanan yang disalurkan tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga dapat diterima dan dikonsumsi dengan baik oleh para penerima manfaat. (dkm)

Exit mobile version