SERANG, Mediabooster.news – Semangat gotong royong dan kreativitas desa mewarnai Penilaian Lomba Bulan Bakti Gotong Royong (BBGR) Kabupaten Serang Tahun 2026 di Kecamatan Pabuaran, Rabu (2/9/2026).
Tiga desa yang menjadi wakil Kecamatan Pabuaran dalam ajang tersebut, yakni Desa Pasanggrahan, Desa Pabuaran dan Desa Sindangheula, mendapat kesempatan memaparkan berbagai program, inovasi serta potensi yang dimiliki masing-masing desa di hadapan tim juri.
Penilaian diawali di Desa Pasanggrahan. Tim juri disambut langsung Kepala Desa Pasanggrahan Entat Karyata di kantor desa. Selain mendengarkan pemaparan terkait kondisi dan program desa, tim juri juga berkeliling meninjau kebersihan, kerapihan lingkungan kantor desa serta administrasi.
Penilaian kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi lokasi lingkungan masyarakat yang menjadi objek penilaian. Di lokasi tersebut, kedatangan tim juri disambut antusias oleh warga.
Dari Desa Pasanggrahan, rombongan kemudian menuju Desa Pabuaran. Kepala Desa Pabuaran Akhmad Suryawan turut memaparkan berbagai materi yang menjadi bagian dari penilaian BBGR.

Berbeda dengan dua desa lainnya, penilaian di Desa Pabuaran kali ini difokuskan pada lingkungan kantor desa, termasuk aspek kebersihan, kerapihan dan administrasi.
Perjalanan tim juri selanjutnya berakhir di Desa Sindangheula. Kedatangan rombongan disambut Kepala Desa Sindangheula Suheli bersama jajaran perangkat desa.
Dalam pemaparannya, Suheli memperkenalkan sejumlah inovasi yang dikembangkan Desa Sindangheula, khususnya dalam bidang lingkungan, ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat.
Beberapa inovasi yang menjadi perhatian di antaranya program Bank Sampah, pengolahan sampah plastik menjadi paving block, pemanfaatan kain bekas menjadi pot bunga, budidaya maggot, budidaya ikan lele hingga pengolahan pupuk kompos.
Berbagai inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah desa dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sekaligus menciptakan kegiatan produktif yang memberikan manfaat bagi warga.
Salah satu juri BBGR, Widodo, mengatakan Kecamatan Pabuaran merupakan kecamatan kelima yang dinilai dalam rangkaian penilaian BBGR Kabupaten Serang Tahun 2026.
Menurutnya, penilaian BBGR mencakup dua aspek utama, yakni aspek fisik dan administrasi. Aspek fisik meliputi kebersihan, keindahan, keamanan, keharmonisan dan keguyuban masyarakat.
“Sebetulnya penilaian ini ada dua aspek, yaitu fisik dan administrasi. Fisik itu meliputi keindahan, keamanan, keharmonisan dan keguyuban,” ujar Widodo.
Ia menilai secara umum kondisi desa-desa di Kecamatan Pabuaran sudah cukup baik, baik dari sisi kebersihan maupun administrasi. Namun, kreativitas dan inovasi desa masih perlu terus ditingkatkan.
“Kreativitas ini yang mungkin perlu ke depannya ditingkatkan lagi. Untuk kreativitas, kita melihat Desa Sindangheula cukup kreatif,” katanya.
Widodo mencontohkan pengelolaan sampah, budidaya ikan, kebun sayuran dan cabai hingga penerapan konsep desa digital sebagai sejumlah inovasi yang menarik perhatian tim penilai.
Ia juga mengingatkan pemerintah desa agar tidak hanya melakukan persiapan menjelang penilaian. Menurutnya, sosialisasi BBGR telah dilakukan jauh hari sehingga desa memiliki cukup waktu untuk melakukan pembenahan secara berkelanjutan.
“Pemberitahuan dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa sudah dilakukan jauh-jauh hari. Namun, rata-rata desa yang kami temui baru melakukan persiapan sekitar empat sampai sepuluh hari sebelumnya. Ini yang kami minta agar setelah sosialisasi, desa-desa segera melakukan pembenahan dan persiapan,” jelasnya.
Lebih jauh, Widodo menegaskan bahwa BBGR bukan sekadar ajang perlombaan. Program tersebut bertujuan menghidupkan kembali budaya gotong royong yang menjadi salah satu identitas masyarakat Indonesia.
“Tujuannya tentu membangkitkan gotong royong. Kita semua tahu gotong royong ini merupakan budaya kita, budaya Nusantara. Namun beberapa puluh tahun terakhir sudah terasa mulai hilang. Pemerintah Kabupaten Serang ingin membangkitkan kembali budaya yang selama ini menjadi identitas bangsa,” ungkapnya.
Dalam tahapan penilaian, selain penilaian terbuka yang dilakukan dengan pemberitahuan kepada pemerintah desa, tim juri juga akan melakukan penilaian tertutup.
Penilaian tertutup dilakukan tanpa pemberitahuan kepada pihak desa. Tim juri akan turun langsung melihat kondisi desa di lapangan untuk memastikan apakah kondisi yang ditampilkan saat penilaian terbuka benar-benar terjaga dalam keseharian.
Jika kondisi desa tetap baik saat penilaian tertutup, maka nilai yang diperoleh akan tetap terjaga. Sebaliknya, apabila ditemukan kondisi yang berbeda atau mengalami penurunan, hal tersebut dapat memengaruhi nilai akhir.
Untuk waktu penilaian tertutup maupun pengumuman pemenang, panitia masih melakukan penjadwalan.
Tim penilai sendiri terdiri dari berbagai unsur, di antaranya TNI, Polri, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Kesehatan, Satpol PP, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman serta unsur Polri dan perangkat daerah lainnya.
Sementara itu, Plt Camat Pabuaran Muhamad Hamimi mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk menguatkan kembali semangat gotong royong masyarakat di Kecamatan Pabuaran.
“Pada hari ini kita mendapat kunjungan dari tim juri BBGR di Kecamatan Pabuaran. Ini menjadi salah satu ikhtiar untuk menunjukkan bahwa gotong royong merupakan bagian dari budaya bangsa Indonesia,” kata Hamimi.
Ia menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang antusias mendukung pelaksanaan BBGR, termasuk tiga desa yang dipercaya menjadi wakil Kecamatan Pabuaran.
“Kami dari Kecamatan Pabuaran bersama masyarakat antusias menjalankan gotong royong. Alhamdulillah, kita memiliki tiga kandidat, yaitu Desa Pasanggrahan, Desa Pabuaran dan Desa Sindangheula. Mudah-mudahan dari tiga desa ini ada yang menjadi juara,” harapnya.
BBGR sendiri merupakan program tahunan Pemerintah Kabupaten Serang yang dilaksanakan untuk meningkatkan kepedulian dan partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan berbasis gotong royong.
Melalui ajang tersebut, desa tidak hanya dituntut memiliki lingkungan yang bersih dan tertata, tetapi juga mampu menunjukkan kreativitas, inovasi, kebersamaan serta partisipasi masyarakat dalam membangun desa. (dkm)