SERANG, Mediabooster.news – Ada rasa sedih dan haru yang mendalam bagi Yhannu Setyawan ketika tidak dapat hadir secara langsung dalam malam reuni dan peringatan 36 tahun HUMANIKA yang digelar di Jakarta.
Padahal, seragam berlogo HUMANIKA telah dipersiapkan dengan rapi. Seragam tersebut bahkan sudah disetrika dan digantung, siap dikenakan untuk menjadi bagian dari momentum perjumpaan para senior, kolega dan sahabat HUMANIKA dari berbagai generasi.
Namun, agenda keluarga yang telah terjadwal jauh sebelumnya membuat Yhannu tidak dapat meninggalkannya.
“Apalah kata dan daya. Untaian kata tetap tidak bisa menggantikan momentum kebersamaan,” ungkap Yhannu dalam refleksinya mengenai peringatan 36 tahun HUMANIKA.
Ketidakhadiran secara fisik membuat Yhannu hanya dapat mengikuti suasana reuni melalui grup WhatsApp, kiriman foto dan video, serta pemberitaan media yang dibagikan oleh para sahabat.
Melihat ratusan aktivis dari lintas generasi dan lintas daerah kembali berkumpul, bercengkerama dan berbagi cerita, menghadirkan perasaan haru sekaligus galau.
Bagi Yhannu, perjalanan 36 tahun HUMANIKA menunjukkan bahwa organisasi tersebut bukan sekadar tempat berkumpul para aktivis. HUMANIKA telah menjadi ruang perjumpaan, rumah persahabatan, arena pembelajaran sekaligus tempat tumbuhnya banyak aktivis dari berbagai latar belakang dan daerah.
Selama perjalanan panjang itu pula, banyak gagasan, pengalaman dan nilai perjuangan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Salah satu sosok yang tidak dapat dilepaskan dari perjalanan tersebut adalah Burzah Zarnubi. Bagi Yhannu, Bang Burzah bukan hanya seorang senior, tetapi juga mentor dan guru bagi banyak aktivis HUMANIKA.
Dengan kesabaran, keterbukaan dan ketekunan, Burzah dinilai telah membersamai banyak aktivis dengan karakter dan latar belakang yang beragam.
“Semua ditemani, semua mendapatkan apresiasi dan perhatian yang sama dan setara,” tulis Yhannu.
Menurutnya, HUMANIKA menjadi tempat bertumbuh bukan semata karena ide, gagasan dan semangat gerakannya, tetapi juga karena kehadiran para tokoh, pengurus dan sahabat yang bersedia membuka ruang dialog, mendengar, merangkul dan memberikan kesempatan kepada setiap generasi aktivis untuk terus belajar dan berkembang.
Bagi Yhannu, makna HUMANIKA bahkan lebih personal.
HUMANIKA bukan sekadar tempat bertemu orang-orang yang pernah menjadi aktivis. Lebih dari itu, HUMANIKA menjadi ruang yang membuat banyak orang merasa pernah diterima, didengar, dibimbing dan menjadi bagian dari perjalanan panjang dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.
Makna tersebut, menurutnya, tidak hanya dirasakan oleh mereka yang beraktivitas di Jakarta. Semangat HUMANIKA juga menjadi bagian dari perjalanan para aktivis yang menempa diri di berbagai daerah di Indonesia.
Yhannu sendiri tercatat pernah beraktivitas di HUMANIKA Lampung pada rentang 1993–1998.
Karena itu, seragam HUMANIKA yang malam itu tidak sempat dikenakannya justru menjadi pengingat bahwa ketidakhadirannya hanya persoalan tempat dan waktu.
“Hati, ingatan, persahabatan dan kebersamaan terhadap HUMANIKA tetap ada,” katanya.
Yhannu berharap peringatan 36 tahun HUMANIKA tidak berhenti sebagai malam nostalgia atau sekadar mengingat cerita perjuangan masa lalu. Momentum tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari rangkaian silaturahmi yang terus berlanjut, sekaligus menjaga gagasan tentang keadilan, kemanusiaan dan pengabdian yang selama ini ditanamkan oleh para aktivis HUMANIKA.
Ia pun menyatakan akan terus merawat semangat tersebut, tidak melupakan HUMANIKA sebagai rumah perjumpaan dan perjuangan, serta berupaya hadir dalam agenda HUMANIKA berikutnya.
“Selamat 36 tahun HUMANIKA. Permohonan maaf dan permakluman, karena malam tadi saya tidak bisa turut membersamai,” ujar Yhannu.
“Benar, memang hanya seragamnya saja yang tidak sempat saya kenakan di ruang acara, tetapi semangatnya tetap terjaga. Insyaallah, untuk perjumpaan berikutnya saya akan hadir, tepat pada waktunya.”
Di penghujung refleksinya, Yhannu menyampaikan salam hormat kepada Burzah Zarnubi serta seluruh sahabat HUMANIKA.
“Salam hormat untuk Bang Burzah Zarnubi,” ucapnya.
“Salam hormat untuk seluruh sahabat HUMANIKA,” tutupnya.
Yhannu Setyawan
Aktivis HUMANIKA Lampung, 1993–19980


