SERANG, Mediabooster.news – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang bersama Yayasan Visi Maha Karya berkolaborasi memberikan pelatihan mitigasi bencana kepada para penyandang disabilitas se-Kabupaten Serang.
Kegiatan dilaksanakan di Aula Dinas Sosial Kabupaten Serang dan diikuti oleh 50 penyandang disabilitas dari 29 kecamatan di Kabupaten Serang, Selasa, (26/7/2025).
Tak sekadar teori, pelatihan ini benar-benar menyentuh hal paling dasar yang sering luput, bagaimana para disabilitas bisa menyelamatkan diri saat bencana datang, tanpa harus menunggu pertolongan terlebih dahulu.
“Disabilitas yang hadir dari berbagai kategori, ada tuna rungu, tuna netra, tuna daksa, hingga yang mengalami disabilitas karena kecelakaan,” tutur Ade Ivan Munasyah, Sekretaris BPBD Kabupaten Serang.
Menurutnya, pelatihan ini bukan hanya soal simulasi, tapi tentang hak semua warga untuk mendapatkan akses pengetahuan dan keselamatan.
“Bencana adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah harus hadir, tidak hanya untuk masyarakat umum, tapi juga untuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus.” Ujarnya.
Ade Ivan, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam membangun komunikasi, menyebarkan informasi, dan memberikan edukasi kebencanaan kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok disabilitas.
“Kegiatan ini menunjukkan kolaborasi yang baik antar-pihak dalam upaya penanggulangan bencana, sesuai filosofi bahwa penanggulangan bencana adalah tanggung jawab bersama. Kami memastikan bahwa seluruh layanan kebencanaan juga menjangkau kelompok masyarakat termasuk kelompok disabilitas atau kebutuhan khusus,” ujarnya.
Sementara itu, Program Development Yayasan Visi Maha Karya, Januari Hendra Saya, menyampaikan Pelatihan ini bukan yang pertama, kegiatan serupa juga telah dilakukan di Tangerang Selatan, dan Kabupaten Serang menjadi lokasi kedua, dengan total peserta telah mencapai 150 orang.
“Disabilitas perlu tahu apa yang harus dilakukan saat bencana. Bahkan orang yang tidak memiliki keterbatasan pun masih sering bingung. Apalagi mereka yang memerlukan perlakuan khusus,” ujarnya.
Ia mencontohkan situasi dilematis seperti saat bencana terjadi di tengah keluarga dengan anggota disabilitas.
“Misalnya ada orang tua disabilitas dan anak disabilitas, siapa yang lebih dulu harus diselamatkan? Ini perlu dipikirkan dan disiapkan,” ungkapnya.
Kegiatan ini mendapat respons positif dari peserta, dan diharapkan mampu meningkatkan kesadaran serta kesiapsiagaan penyandang disabilitas dalam menghadapi situasi darurat, demi keselamatan diri dan lingkungan sekitarnya. (***)

