KAB. SERANG, Mediabooster.news – Upaya mengatasi persoalan sampah di lingkungan pedesaan terus didorong melalui inovasi sederhana namun berdampak. Mahasiswa KKM Tematik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) Kelompok 98 ciptakan tempat pembakaran sampah (insinerator) di Kampung Kepandean, Desa Sindangsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang.
Insinerator tersebut disambut baik dan diresmikan langsung oleh Pemerintah Desa Sindangsari yang diwakili Kasi Keuangan, Hasanudin, didampingi Ketua RT setempat, Samidin, serta disaksikan warga dan mahasiswa KKM, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan akhir pengabdian mahasiswa selama satu bulan di desa tersebut.
Ketua Pelaksana KKM 98, Rifki Wahyudi, menjelaskan bahwa insinerator ini dirancang sebagai solusi awal untuk mengurangi penumpukan sampah yang selama ini belum tertangani secara terpadu di Kampung Kepandean.
“Kelompok KKM 98 membuat tempat pembakaran sampah yang disebut insinerator. Fungsinya untuk membakar sampah, baik sampah kering maupun basah, sehingga sampah yang tidak bisa diolah tidak menumpuk dan menimbulkan masalah lingkungan,” ujar Rifki.
Ia menjelaskan, cara kerja insinerator tergolong sederhana. Proses pembakaran dimulai dari pemantik api di bagian belakang, kemudian sampah dimasukkan melalui bagian atas (feeding). Ruang bagian bawah dibiarkan kosong agar aliran udara berjalan optimal dari bawah ke cerobong atas, sehingga proses pembakaran lebih maksimal.
Menurut Rifki, gagasan pembangunan insinerator berangkat dari kondisi lapangan yang belum memiliki tempat pembuangan sampah terpadu. Jika sampah hanya ditumpuk tanpa pengolahan, berpotensi menimbulkan dampak kesehatan dan pencemaran lingkungan.
“Insinerator ini bukan solusi utama pengolahan sampah, tapi menjadi langkah awal agar masyarakat bisa mandiri mengelola sampahnya sendiri. Harapannya, ke depan bisa dikembangkan lagi oleh warga maupun mahasiswa KKM berikutnya,” tambahnya.
Selain insinerator, mahasiswa KKM 98 juga telah memperkenalkan pengolahan sampah plastik menjadi paving block yang memiliki nilai ekonomis. Sementara sampah yang tidak dapat diolah dimusnahkan melalui insinerator.
Mewakili Pemerintah Desa Sindangsari, Hasanudin mengapresiasi inovasi yang dilakukan mahasiswa KKM UNTIRTA. Ia menilai program tersebut sangat membantu warga, khususnya di Kampung Kepandean, dalam mengatasi persoalan sampah.
“Kami sangat mengapresiasi kreativitas mahasiswa KKM yang telah menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Semoga fasilitas ini dimanfaatkan dengan baik dan bisa terus dikembangkan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua RT Kampung Kepandean, Samidin, menyambut positif keberadaan insinerator. Ia berharap fasilitas tersebut dapat meningkatkan kesadaran warga untuk tidak membuang sampah sembarangan.
“Alhamdulillah, kegiatan mahasiswa KKM 98 ini sangat bermanfaat. Mudah-mudahan masyarakat bisa lebih peduli terhadap lingkungan, sampah tidak lagi berserakan, dan pengelolaannya bisa dijadwalkan secara bergilir,” kata Samidin.
Peresmian insinerator ini sekaligus dirangkaikan dengan kegiatan penutupan KKM, yang dimeriahkan dengan lomba-lomba anak, pembagian doorprize, serta pemutaran video selayang pandang aktivitas mahasiswa selama menjalankan pengabdian di Kampung Kepandean.
Kegiatan tersebut menjadi penutup manis pengabdian mahasiswa KKM UNTIRTA Kelompok 98, sekaligus meninggalkan jejak inovasi yang diharapkan mampu terus memberi manfaat bagi masyarakat Desa Sindangsari. (dkm)

