SERANG, Mediabooster.news – Perusahaan Milik Daerah (PERUMDA) Tirta Al Bantani Kabupaten Serang memberikan penjelasan lebih rinci terkait pemberitaan di salah satu media sosial terkait kekeruhan air di wilayah Pontang, sebagai upaya menghadirkan informasi yang utuh, berimbang, dan sesuai kondisi faktual di lapangan.
Dalam keterangannya, Perumda Tirta Al Bantani menyampaikan apresiasi terhadap peran media sebagai mitra informasi publik. Namun, perusahaan menilai penting adanya pemahaman yang komprehensif, khususnya terkait aspek teknis dalam sistem distribusi air bersih.
Pihaknya menegaskan bahwa kekeruhan air yang sempat terjadi bukan berasal dari kualitas produksi air, melainkan akibat gangguan pada jaringan distribusi.
“Perlu kami tegaskan bahwa kekeruhan air yang terjadi bukan disebabkan oleh kualitas produksi air, melainkan akibat gangguan teknis pada jaringan distribusi,” tulis Perumda Tirta Al Bantani dalam klarifikasi resminya, Sabtu (18/4/2026).
Gangguan tersebut disebabkan oleh pecahnya pipa distribusi utama di wilayah Kampung Kubang Bahad. Pipa berdiameter 8 inci tersebut merupakan bagian dari jaringan lama yang secara teknis memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi dibanding jaringan baru.
Perumda Tirta Al Bantani juga memaparkan kronologi lengkap penanganan gangguan sebagai bentuk transparansi kepada publik.
Pada Rabu, 15 April 2026, sekitar pukul 02.00 WIB, tim teknis mendeteksi indikasi kebocoran pada pipa distribusi utama. Menindaklanjuti hal tersebut, petugas segera melakukan isolasi area untuk mencegah kehilangan air yang lebih besar serta mengendalikan dampak terhadap pelanggan.
Selanjutnya, pada pukul 06.45 WIB di hari yang sama, proses penggalian dan perbaikan mulai dilakukan di titik kerusakan. Pekerjaan tersebut berlangsung hingga malam hari dan perbaikan tahap pertama dinyatakan selesai pada pukul 19.42 WIB.
Namun, pada Kamis, 16 April 2026 pukul 09.00 WIB, saat dilakukan uji coba pengaliran (commissioning) pasca-perbaikan, tim kembali menemukan adanya kebocoran pada titik sambungan pipa. Kondisi ini terjadi akibat tekanan air yang cukup tinggi saat aliran kembali dinormalkan.
Merespons hal tersebut, petugas langsung melakukan penanganan darurat di lokasi untuk memastikan perbaikan dapat dilakukan secara menyeluruh. Perbaikan lanjutan akhirnya berhasil diselesaikan pada pukul 15.00 WIB di hari yang sama.
Setelah seluruh proses perbaikan rampung, tim teknis melanjutkan dengan proses pembersihan jaringan (flushing) guna menghilangkan kotoran dan endapan yang berada di dalam pipa.
Selain itu, Perumda Tirta Al Bantani menjelaskan, kondisi air yang sempat terlihat keruh merupakan dampak teknis dari proses flushing dan pengaliran ulang setelah perbaikan jaringan.
Aliran air dengan tekanan tinggi menyebabkan endapan alami yang selama ini berada di dalam pipa ikut terbawa ke aliran distribusi, sehingga mempengaruhi kejernihan air untuk sementara waktu.
“Hal tersebut merupakan residu teknis dari proses pengurasan (flushing) dan pengaliran ulang. Aliran air yang kuat membawa endapan alami di dalam pipa setelah masa perbaikan,” jelasnya dalam tulisan.
Lebih lanjut, memasuki Jumat, 17 April 2026, kondisi distribusi air bersih di wilayah terdampak dilaporkan telah kembali normal secara bertahap. Perumda Tirta Al Bantani juga terus melakukan pemantauan tekanan serta kualitas air untuk memastikan pelayanan tetap stabil sesuai standar.
Sebagai langkah ke depan, perusahaan berkomitmen untuk mempercepat program peremajaan jaringan perpipaan, khususnya pada pipa-pipa lama yang memiliki tingkat risiko kerusakan lebih tinggi.
Selain itu, Perumda Tirta Al Bantani juga berharap pemberitaan yang disampaikan kepada masyarakat dapat terus mengedepankan prinsip akurasi, keberimbangan, serta konfirmasi, sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan di tengah masyarakat.
Di akhir keterangannya, Perumda Tirta Al Bantani menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang sempat terjadi, sekaligus mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dan pengertian pelanggan selama proses penanganan berlangsung. (***)


