
SERANG, Mediabooster.news – Pertanian di Desa Sindangheula, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, mulai diarahkan menuju sistem yang lebih modern dengan memanfaatkan teknologi digital. Salah satunya melalui implementasi Smart Farming berupa pembuatan sistem irigasi otomatis berbasis Internet of Things (IoT).
Kegiatan bertajuk “Implementasi Smart Farming melalui Pembuatan Sistem Irigasi Otomatis di Desa Sindangheula” ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM PPTG)
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) dengan tema “Pemberdayaan Petani Desa Sindangheula melalui Pertanian Cerdas (Smart Farming) Berbasis IoT untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan.”
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh tim pengabdian Dr. Arenawati, S.Sos., M.Si. dan Riswanda, Ph.D., serta diterima langsung oleh Kepala Desa Sindangheula, Suheli, S.Kom.I., M.M., bersama perwakilan petani Desa Sindangheula, Jumat (18/9/2026).
Implementasi sistem irigasi otomatis menjadi langkah nyata untuk mengenalkan pemanfaatan teknologi dalam aktivitas pertanian. Sistem ini dirancang untuk membantu petani mengatur penyiraman secara lebih efisien, sekaligus mengenalkan pola budidaya yang memanfaatkan data dan teknologi.
Dr. Arenawati menjelaskan, penerapan Smart Farming tidak hanya berkaitan dengan pemasangan perangkat teknologi, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana petani mampu memahami dan memanfaatkan teknologi tersebut dalam kegiatan pertanian sehari-hari.
“Smart Farming itu hanya alat untuk mengefisiensikan pekerjaan petani. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun smart farmer, yaitu petani yang memiliki pengetahuan, mampu membaca kondisi lahannya dan mau berinovasi,” ujar Dr. Arenawati.
Menurutnya, teknologi dapat membantu petani dalam memperoleh informasi mengenai kondisi lahan, kelembaban, cuaca maupun kebutuhan tanaman. Dengan informasi tersebut, keputusan dalam melakukan penyiraman dan perawatan tanaman dapat dilakukan secara lebih terukur.
Ia juga menekankan pentingnya regenerasi petani, khususnya dengan mendorong keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian. Menurutnya, pertanian masa depan membutuhkan petani yang tidak hanya menguasai teknik bertani, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi digital.
“Teknologi tidak cukup kalau manusianya tidak siap. Karena itu, peningkatan kapasitas petani dan munculnya petani-petani muda yang selalu berinovasi menjadi bagian penting dalam memajukan pertanian,” katanya.
Program pengabdian tersebut sebelumnya juga telah melakukan sosialisasi Smart Farming berbasis IoT kepada pengurus Gapoktan, kelompok tani dan perangkat Desa Sindangheula. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai Smart Farming, dari 33,1 persen sebelum sosialisasi menjadi 92,5 persen setelah kegiatan.
Dalam program tersebut, penerapan teknologi dilakukan melalui lahan demplot sekitar 100 meter persegi milik desa dengan teknologi penyiraman otomatis. Petani juga diberikan pemahaman mengenai pemanfaatan teknologi untuk mengetahui kondisi lahan sebelum menentukan jenis tanaman dan pola perawatannya.
Sementara itu, Kepala Desa Sindangheula Suheli menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa dan petani menjadi langkah penting untuk menghadirkan inovasi yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Ini menjadi pengalaman dan pengetahuan baru bagi para petani. Kami berharap teknologi ini bisa terus dikembangkan sehingga pertanian di Desa Sindangheula semakin maju, efisien dan mampu mendukung ketahanan pangan masyarakat,” ujar Suheli.
Penerapan Smart Farming di Desa Sindangheula diharapkan tidak berhenti pada penggunaan teknologi irigasi otomatis. Lebih jauh, program ini diharapkan mampu membangun budaya pertanian baru yang berbasis pengetahuan, data dan inovasi.
Dengan demikian, teknologi bukan sekadar alat bantu, tetapi menjadi pintu masuk untuk menciptakan petani yang lebih cerdas, produktif dan adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus menjaga keberlanjutan sektor pertanian di Desa Sindangheula. (dkm)
