
SERANG, Mediabooster.news – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Serang menggelar webinar bertajuk “Membangun Literasi Politik untuk Generasi Pemilih di Masa Depan” pada Jumat (19/12/2025).
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom ini merupakan bagian dari program Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih Berkelanjutan.
Webinar dibuka secara resmi oleh Ketua KPU Kabupaten Serang, Muhamad Nasehudin, dan dimoderatori oleh Ichsan Mahfuz, Anggota KPU Kabupaten Serang Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, dan Partisipasi Masyarakat (Sosdiklih Parmas).
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, yakni Mohamad Ihsan selaku Ketua KPU Provinsi Banten, Dr. Ali Muhtarom, selaku Wakil Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, serta Ajat Munajat Anggota Bawaslu Provinsi Banten, dan selaku Keynote Spaker Ketua KPU Provinsi Banten, Mohamad Ihsan.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Ali Muhtarom memberikan materi tentang Urgensi Literasi Politik bagi Pemilih Muda.
Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya literasi politik bagi generasi muda sebagai fondasi utama dalam membangun demokrasi yang sehat dan berkualitas. Menurutnya, rendahnya literasi politik masih menjadi tantangan serius, terutama di kalangan anak muda.
“Rendahnya daya kritis masyarakat dalam memilih, minimnya literasi politik, hingga maraknya politik identitas dan polarisasi di media sosial dapat menghambat terbentuknya partisipasi politik yang sehat,” ujarnya saat menyampaikan materi via virtual.
Ia menjelaskan bahwa literasi politik bukan sekadar pemahaman tentang pemilu, tetapi mencakup kemampuan menganalisis informasi, bersikap kritis, dan berpartisipasi secara sadar dalam proses demokrasi.
Dr. Ali juga memaparkan data bahwa pada Pemilu 2024, pemilih muda mendominasi komposisi pemilih nasional. Generasi milenial mencapai sekitar 33,6 persen dan Generasi Z sebesar 22,85 persen, atau lebih dari 55 persen total pemilih tetap. Dominasi ini menempatkan generasi muda sebagai kekuatan elektoral yang sangat signifikan dalam menentukan arah politik bangsa.
Menurut Dr. Ali, generasi muda memiliki kecenderungan kuat terhadap isu pendidikan, lapangan kerja, lingkungan hidup, serta transparansi dan antikorupsi. Selain itu, mereka lebih menyukai figur pemimpin yang otentik, komunikatif, inovatif, dan memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat.
“Generasi Z sangat sensitif terhadap ketidakjujuran dan pencitraan berlebihan. Mereka lebih menerima pemimpin yang terbuka, humanis, dan konsisten antara ucapan dan tindakan,” tambahnya.
Sementara itu, Anggota Bawaslu Provinsi Banten, Ajat Munajat, menyoroti tantangan literasi politik generasi muda yang masih dihadapkan pada minimnya pendidikan politik formal, dominasi media sosial yang sarat informasi tidak terverifikasi, serta sikap apatis terhadap politik.
Ia menegaskan bahwa rendahnya literasi politik berpotensi melahirkan pemilih yang apatis dan rentan terhadap hoaks serta disinformasi politik.
“Literasi politik adalah fondasi demokrasi yang sehat. Generasi muda harus aktif mencari informasi politik yang kredibel, menolak hoaks dan ujaran kebencian, serta ikut mengawasi proses demokrasi di lingkungan sekitarnya,” tegas Ajat.
Dalam kesempatan tersebut, Ajat juga menjelaskan pentingnya pemilu sebagai sarana regenerasi kepemimpinan dan pergantian kekuasaan secara damai, serta menekankan lima pilar penting dalam pemilu, yakni penyelenggara, pemilih, peserta pemilu, pers, dan pemantau.
Bagian dari Pendidikan Pemilih Berkelanjutan
Anggota KPU Kabupaten Serang Ichsan Mahfuz menjelaskan bahwa webinar ini merupakan bagian dari tahapan non-tahapan pemilu sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 dan PKPU Nomor 9 Tahun 2022.
“Tahapan non-tahapan pemilu meliputi pemutakhiran data pemilih berkelanjutan, sosialisasi dan pendidikan pemilih berkelanjutan, pelayanan informasi publik, serta penguatan kelembagaan. Webinar ini masuk dalam program pendidikan pemilih berkelanjutan,” jelasnya.
Menurut Ichsan, pelaksanaan webinar secara daring bertujuan untuk memperluas akses dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara lebih efektif dan efisien. Peserta webinar berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mantan penyelenggara ad hoc, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
Ia menambahkan bahwa literasi saat ini tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup literasi digital, numerik, finansial, dan media sosial, agar masyarakat mampu bersikap kritis terhadap informasi yang beredar.
“Di era sekarang, informasi sangat mudah didapat, tetapi kebenarannya harus diuji. Program ini bertujuan membangun sikap kritis masyarakat terhadap informasi politik,” pungkasnya.
Ke depan, KPU Kabupaten Serang berencana melanjutkan kegiatan webinar literasi politik ini dalam bentuk seri lanjutan sebagai bagian dari upaya berkelanjutan mencerdaskan kehidupan demokrasi masyarakat. (dkm)

