
KAB. SERANG, Mediabooster.news – Desa Sindangheula, Kecamatan Pabuaran, sebagai salah satu Desa pertama di Kabupaten Serang yang sudah menjalankan Progam “Desa Digital Bank bjb” yang beberapa hari lalu setelah dilaunching oleh Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah, kini sudah terlihat manfaat dan dirasakan oleh masyarakat terutama para pelaku UMKM.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Desa Sindangheula Suheli pada saat dijumpai di ruang kerjanya.
Pertama dirinya bersyukur dengan adanya desa digital Bank bjb dapat mempermudah warganya untuk melakukan berbagai transaksi baik pembayaran, pembelian, transfer, pembukaan rekening, kredit pinjaman dan lainnya di Kantor Balai Desa Sindangheula.
“Untuk warga yang membuka rekening memang belum ada, karena desa digital ini juga baru launching, tetapi Alhamdulillah sudah ada yang melakukan pembayaran SPPT dan pengajuan pinjaman Mesra. Bahkan 11 orang yang sudah di acc dan cair pada saat launching kemarin,” kata Suheli. Senin (17/10/2022).

Menurut keterang suheili, hingga saat ini ada lebih kurang 30 orang pelaku usaha kecil yang mengajukan Kredit mesra dan sudah 11 orang sudah terverifikasi dan mendapatkan pinjamannya sebesar Rp5 juta tanpa bunga.
“Desa digital ini ada namanya program Mesra, yaitu Masyarakat Ekonomi dan Sejahtera. Mesra ini diberikan sebuah pinjaman yang tidak ada bunganya, untuk UMKM-UMKM yang tarafnya mikro dan kecil. Itu akan mendapatkan pinjaman maksimal Rp5 juta untuk UMKM di Desa Sindanghula,” tambahnya.
Harapan dirinya, lewat kolaborasi bank bjb dan pemerintah Kabupaten Serang melalui produk Kredit Mesra ini menurut dirinya sangat membantu kehidupan warga di Desa Sindangheula. Salah satunya yang paling berdampak adalah para usaha kecil dapat tambahan modal sehingga dapat mengembangkan usahanya dan terhindar dari jeratan rentenir atau bank emok.
“Selama ini masih banyak warga terutama pelaku usaha kecil yang mengambil pinjaman ke bank emok atau renternir. Namun masalahnya, pinjaman tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga pada saat waktunya mengembalikan, warga tak mampu membayar. Terlebih cara menagihnya pun cukup meresahkan, kan kasihan,” ungkap Suheli.
Untuk itu Kepala Desa Sindangheula tersebut menghimbau kepada warga yang mengajukan pinjaman ke desa digital agar uang pinjaman digunakan benar-benar untuk usaha, dan dan mengembangkan usahanya sehingga cukup membantu perekonomian.
“yang saya tidak harapkan pinjaman tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga modal yang diperoleh tidak ada manfaat dan hasilnya. Harapannya ya warga semakin sadar bagaimana seharusnya memanfaatkan pinjaman itu agar lebih produktif lewat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM),” ujarnya. (dkm)

