
SERANG, Mediabooster.news – Suasana peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Baiturrohman, Kampung Taman Barang, Desa Sindangsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Banten, berlangsung meriah. Ratusan hingga ribuan warga tumpah ruah mengikuti tradisi ngeropok Panjang Mulud, Senin (7/9/2026).
Antusiasme warga semakin terlihat saat pembagian berkat dari berbagai Panjang Mulud dimulai. Anak-anak, remaja hingga orang dewasa berbondong-bondong merangsek ke depan untuk mendapatkan berkat yang telah disiapkan masyarakat.
Momen tersebut dikenal masyarakat Banten, khususnya di wilayah Serang dan sekitarnya, dengan istilah jedogan. Tradisi ini menggambarkan suasana ketika warga saling berdesakan dan berebut secara antusias untuk mendapatkan berkat yang dipajang pada Panjang Mulud.
Panjang Mulud sendiri merupakan wadah hias yang dibuat dalam berbagai bentuk, seperti kapal, masjid, rumah hingga kendaraan. Di dalamnya biasanya terdapat berbagai macam barang dan kebutuhan, mulai dari sembako, pakaian, peralatan rumah tangga hingga uang tunai yang disiapkan sebagai bentuk sedekah warga.
Salah satu panitia, Hasanudin, mengatakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan kegiatan rutin yang setiap tahun dilaksanakan masyarakat Kampung Taman Barang.
Menurutnya, warga selalu menunjukkan antusiasme tinggi dengan mempersiapkan berkat maupun Panjang Mulud sebagai bentuk rasa syukur sekaligus sedekah terbaik kepada sesama.
“Peringatan Maulid Nabi ini memang menjadi kegiatan tahunan masyarakat Kampung Taman Barang. Setiap tahun masyarakat sangat antusias menyiapkan berkat maupun Panjang Mulud untuk memberikan sedekah terbaiknya,” ujar Hasan.
Ia mengakui, jumlah masyarakat yang membuat Panjang Mulud tahun ini memang mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun demikian, kemeriahan perayaan tetap terasa karena Panjang Mulud yang dibuat warga masih cukup banyak.
“Memang tahun ini ada penurunan masyarakat yang membuat Panjang Mulud, tetapi Alhamdulillah acaranya tetap cukup meriah dan Panjang Mulud juga masih banyak,” katanya.
Di luar perkiraan panitia, jumlah jamaah yang hadir justru membludak. Panitia sebelumnya menargetkan sekitar 1.000 jamaah, termasuk tamu undangan. Namun, jumlah warga yang datang diperkirakan mencapai sekitar 1.600 jamaah.
Membludaknya jumlah jamaah membuat suasana semakin ramai ketika tiba saatnya pembagian berkat. Warga saling berdesakan untuk mendapatkan bagian dari berkat yang telah disiapkan.
“Jamaah ternyata membludak. Awalnya kami menargetkan sekitar 1.000 jamaah termasuk tamu undangan, tetapi yang datang kurang lebih mencapai 1.600 jamaah. Bahkan ada yang tidak kebagian berkat,” ungkapnya.
Meski sempat terjadi aksi dorong-mendorong saat pembagian berkat, Hasan menyebut kegiatan secara keseluruhan berjalan lancar dan kondusif. Menurutnya, suasana tersebut merupakan bagian dari tradisi jedogan yang telah melekat dalam perayaan Maulid Nabi di masyarakat setempat.
“Memang saat pembagian berkat sempat terjadi dorong-mendorong, tetapi itulah tradisi yang disebut jedogan dan sudah menjadi bagian dari acara Maulid di sini. Alhamdulillah seluruh rangkaian kegiatan tetap berjalan lancar,” ujarnya.
Lebih dari sekadar berebut berkat, tradisi jedogan dan Panjang Mulud memiliki makna sosial yang kuat. Tradisi tersebut menjadi gambaran rasa syukur masyarakat atas nikmat yang diberikan Allah SWT sekaligus menjadi sarana berbagi rezeki melalui sedekah.
Di tengah suasana penuh kegembiraan, seluruh lapisan masyarakat berbaur menjadi satu. Anak-anak, orang tua, tokoh masyarakat, hingga tamu undangan bersama-sama menikmati kemeriahan Maulid tanpa membedakan latar belakang maupun status sosial.
Bagi masyarakat Kampung Taman Barang, kemeriahan ngeropok Panjang Mulud bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi, menumbuhkan semangat berbagi dan menjaga warisan budaya keagamaan masyarakat Banten agar tetap hidup di tengah generasi berikutnya. (dkm)
