
SERANG, Mediabooster.news – Tim Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB) dari Design Ethnography Lab melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Sindangheula, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (22/11/2025).
Kegiatan ini mengusung tema “Pengembangan Desain Sapu Lidi Sawit sebagai Produk Ekspor” dan menjadi bagian dari Program Pengabdian Masyarakat DPMK Skema Top Down Tahun 2025 yang didukung oleh DPMK ITB.
Kegiatan dipimpin oleh Ketua Tim Pengabdian, Prananda L. Malasan, bersama para anggota tim: Dr. Muhammad Ihsan, Meirina Triharini, Raditya Ardianto Taepoer, Dr. Arianti A. Puspita, M. Ridhwan, Gabriel Anandityo Wicaksono, dan Lukman Hakim.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Sindangheula Suheli, S.Kom.I., MM, Ketua RW dan RT, serta puluhan warga dan pelaku pengrajin sapu lidi.

Ketua Tim, Prananda, menjelaskan bahwa kegiatan ini berfokus pada pengembangan desain produk berbahan dasar sapu lidi sawit agar memiliki nilai tambah dan dapat menembus pasar ekspor.
“Kami melakukan pelatihan terhadap beberapa kelompok perajin sapu lidi di Desa Sindangheula. Di sini kami mencoba mengembangkan produk-produk baru berbasis sapu lidi untuk mencapai kualitas ekspor,” ujarnya.
Selain inovasi produk, tim juga memberikan pelatihan wirausaha dan bisnis model kanvas kepada para peserta, untuk memperluas wawasan pemasaran dan pengembangan usaha.
Pada sesi pagi, peserta dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mengikuti pelatihan inovasi produk, menghasilkan lebih dari sepuluh ide baru seperti tempat payung, kap lampu, dan berbagai bentuk sapu modern.
Kelompok kedua mempelajari konsep bisnis model kanvas untuk memahami target pasar, karakteristik calon pembeli, dan strategi pengembangan produk.
Prananda mengapresiasi antusiasme warga.
“Awalnya kami mendapat informasi jumlah peserta sekitar 40 orang. Namun saat kegiatan dimulai, jumlahnya mencapai 65 peserta. Ini menunjukkan semangat luar biasa masyarakat,” tuturnya.
Ia juga berharap program ini berkelanjutan.
“Insya Allah tahun depan kami berharap bisa terus bekerja sama. Mengembangkan inovasi tidak cukup satu kali, harus terus berulang agar mencapai kualitas terbaik,” tambahnya.
Selain fokus pada sapu lidi, tim ITB melihat potensi lain yang dapat dikembangkan di Sindangheula, termasuk bidang agrikultur dan kemungkinan pengembangan desa wisata sesuai arah pembangunan desa.
Kepala Desa Sindangheula, Suheli, menyampaikan terima kasih atas kehadiran tim ITB dan manfaat program bagi masyarakat.
“Alhamdulillah kami kedatangan tim dari Institut Teknologi Bandung. Warga kami memang sudah ahli dalam persapuan, tapi pelatihan ini membuka wawasan baru. Bukan hanya sapu lidi, tapi juga produk seperti vas bunga, piring, dan suvenir,” ungkapnya.
Ia berharap pelatihan ini mampu mengembangkan kreativitas masyarakat serta meningkatkan perekonomian desa.
“Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi langkah awal untuk mendorong inovasi, kreativitas, dan kemandirian ekonomi Desa Sindangheula, sekaligus memperkuat posisi produk kerajinan lokal untuk bersaing di pasar global, sehingga taraf ekonomi bisa meningkat,” tutupnya. (dkm)

