
SERANG , Mediabooster.news – Yayasan Anwarul Hasan menggelar Halal Bihalal Idul Fitri yang dirangkaikan dengan Haul ke-177 Tubagus Abdul Hasan, tokoh besar Banten yang juga dikenal dengan gelar Raden Arya Mandoera Radja Djaya Negara. Kegiatan ini berlangsung di lingkungan Yayasan Anwarul Hasan, Pondokkahuru, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang, Sabtu (4/4/2026).
Kegiatan mengusung tema “Mari Kita Bangun Kekompakan dan Kerjasama Lintas Generasi Guna Mempererat Tali Silaturahmi.”
Acara tersebut tidak sekadar menjadi tradisi tahunan, melainkan momentum penting untuk merawat ingatan kolektif terhadap sejarah sekaligus memperkuat jalinan silaturahmi keluarga besar keturunan Tubagus Abdul Hasan yang kini telah tersebar di berbagai daerah.
Ketua Yayasan Anwarul Hasan, Tubagus Arif Rahman Safaruddin, menyampaikan bahwa haul ini rutin digelar setiap tahun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus sarana mempererat hubungan antar generasi. Ia yang merupakan keturunan ke-6 menegaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi untuk meneladani nilai-nilai perjuangan sang tokoh.
“Haul ini bukan hanya mendoakan, tetapi juga mengingatkan kita semua agar tetap menjaga marwah keluarga dan meneladani perjuangan beliau,” ujarnya.
Sosok Ulama, Birokrat, dan Pemimpin
Tubagus Abdul Hasan merupakan sosok penting dalam sejarah Banten. Ia tercatat sebagai Regent (Bupati) Caringin pada periode 1782–1840, sebelum kemudian menjabat sebagai Bupati Serang ketiga sekitar tahun 1840–1849. Di tengah masa penjajahan, ia dipercaya memimpin wilayah, menunjukkan kapasitasnya sebagai tokoh yang disegani.
Tak hanya sebagai birokrat, Tubagus Abdul Hasan juga dikenal sebagai seorang ulama dan hafiz Al-Qur’an. Pada masa Kesultanan Banten, terdapat ketentuan bahwa seorang pejabat harus memiliki pemahaman agama yang kuat, termasuk hafalan Al-Qur’an. Hal ini tercermin dalam sosok beliau yang mampu memadukan kepemimpinan pemerintahan dengan nilai-nilai keagamaan.
Gelar kehormatan Raden Arya Mandoera Radja Djaya Negara yang disematkan kepadanya pun sarat makna. “Arya” berarti sosok terhormat, “Radja” pemimpin wilayah, dan “Djaya Negara” menggambarkan kejayaan serta kemakmuran negeri yang dipimpinnya. Gelar ini menjadi simbol pengakuan atas integritas dan pengaruhnya sebagai pemimpin.
Menjaga Identitas Lewat Sejarah
Bagi generasi penerus, haul bukan sekadar ritual, tetapi juga sarana edukasi sejarah. Ratu Nizma Salma, generasi ke-7 keturunan Tubagus Abdul Hasan, menekankan pentingnya mengenalkan tokoh leluhur kepada generasi muda.
Ia mengungkapkan keprihatinannya jika generasi muda lebih mengenal tokoh-tokoh fiktif dibandingkan pahlawan dan ulama dari tanah sendiri.
“Kalau kita tidak mengenal sejarah, kita akan kehilangan identitas. Padahal leluhur kita adalah tokoh nyata, ulama, pemimpin, dan pejuang. Dari merekalah kita bisa belajar nilai kehidupan,” ujarnya.
Menurutnya, menggali sejarah sama dengan membangun jati diri bangsa. Dengan memahami akar sejarah, generasi muda diharapkan memiliki kebanggaan dan semangat untuk membangun daerah serta bangsa.
Sementara itu, Muhammad Haersyah Drajat Prawiranegara yang juga merupakan keturunan Tubagus Abdul Hasan, putra dari Drajat Prawiranegara yang namanya diabadikan oleh pemerintah kabupaten Serang menjadi nama rumah sakit daerah mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut.
Ia menilai acara ini memiliki peran penting dalam menjaga tali silaturahmi antar keluarga besar.
“Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya mengenang jasa para leluhur, tetapi juga mempererat hubungan kekeluargaan. Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami sebagai bagian dari keluarga besar Banten,” ungkapnya.
Ia berharap, tradisi haul dan silaturahmi keluarga besar ini dapat terus dilestarikan dari generasi ke generasi, sekaligus menjadi motivasi untuk menjaga nama baik keluarga dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Kegiatan ini juga mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk Camat Ciomas, Ugum Gurmilang. Ia menilai haul dan halal bihalal ini memiliki peran strategis dalam memperkuat kebersamaan sekaligus membuka peluang kolaborasi antara yayasan dan pemerintah.
“Kegiatan ini jangan sampai terhenti. Ini bukan hanya silaturahmi, tetapi juga momentum untuk membangun kolaborasi dalam pendidikan dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pendataan keturunan sebagai bagian dari upaya menjaga sejarah dan memperkuat jaringan keluarga besar yang memiliki kontribusi besar bagi daerah.
Warisan Nilai untuk Generasi Mendatang
Selain sebagai ajang silaturahmi, Yayasan Anwarul Hasan juga terus berkomitmen dalam bidang pendidikan sebagai bentuk nyata melanjutkan perjuangan leluhur. Para pengurus berharap generasi muda tidak hanya menjaga nama baik keluarga, tetapi juga meningkatkan kapasitas diri melalui pendidikan, inovasi, dan kontribusi sosial.
Haul ke-177 Tubagus Abdul Hasan menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar masa lalu, melainkan fondasi untuk masa depan. Dari sosok ulama, pemimpin, dan pejuang seperti beliau, generasi penerus diharapkan mampu melanjutkan nilai-nilai kebaikan, menjaga persatuan, serta membangun peradaban yang lebih maju. (dkm)
