
KAB. SERANG, Mediabooster.news – Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) berencana menjalin kerja sama strategis dengan Kurma Adzwa Farm yang berlokasi di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Kolaborasi ini membuka peluang besar bagi warga desa untuk menempuh pendidikan perguruan tinggi di Jepang melalui program beasiswa berskala nasional.
Hal itu disampaikan Menteri Desa PDTT Yandri Susanto saat meninjau PT Malindo Feedmill, peternakan ayam petelur Omega, di Desa Sangiang, Kecamatan Pamarayan, dan didamping Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah beserta pejabat Pemkab Serang, Rabu (28/1/2026).
Yandri mengatakan, melalui kerja sama tersebut, Kemendes PDTT akan menyiapkan program beasiswa bagi pemuda desa dengan kuota mencapai 45 ribu orang. Program ini tidak hanya memberi kesempatan kuliah di universitas ternama di Jepang, tetapi juga menjamin akses kerja setelah lulus.
“Nanti akan ada beasiswa ke Jepang. Per orang nilainya mencapai Rp250 juta. Setelah lulus, mereka juga langsung bekerja atau magang selama lima tahun dengan gaji yang sangat besar,” ujar Yandri.
Menurutnya, program ini harus disambut serius oleh pemerintah desa dan pemerintah daerah, termasuk di Kabupaten Serang. Ia menegaskan, akan ada pertemuan dengan seluruh kepala desa untuk memastikan sinergi program berjalan optimal bersama bupati.
“Saya kira ini peluang emas untuk desa-desa di Serang. Kita akan pastikan kerja sama ini bisa berjalan, tentu dengan dukungan pemerintah daerah,” katanya.
Diketahui, Kurma Adzwa Farm merupakan peternakan domba terintegrasi modern yang berdiri sejak 2021. Peternakan ini dikenal mengedepankan kualitas ternak, pengelolaan ramah lingkungan, serta pemanfaatan limbah organik secara berkelanjutan.
Yandri menambahkan, dari total kuota 45 ribu penerima beasiswa, Kabupaten Serang diharapkan mampu mengirimkan sekitar 5 ribu hingga 10 ribu pemuda desa. Namun demikian, terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi calon penerima, salah satunya kemampuan berbahasa Jepang.
“Pendidikannya bagus, tapi ada syarat wajib bisa bahasa Jepang. Karena itu, pemerintah daerah harus memfasilitasi pelatihan bahasa Jepang agar saat mereka kembali punya skill yang kuat,” jelasnya.
Ia berharap, program beasiswa ini dapat menjadi solusi jangka panjang dalam menekan angka pengangguran, sekaligus mencetak sumber daya manusia desa yang kompeten dan berdaya saing global.
“Jangan sampai setelah selesai kuliah mereka kembali menganggur. Kita akan petakan potensi mereka, supaya jelas setelah lulus mau jadi apa dan bekerja di mana,” pungkasnya. (*)

