
KAB. SERANG, Mediabooster.news – Kepala UPT Puskesmas Pabuaran, Kabupaten Serang, Hj. Maftuhah, menjelaskan kesiapan wilayahnya dalam menghadapi program prioritas penanggulangan Tuberkulosis (TBC) pada tahun 2026.
Maftuhah mengungkapkan bahwa seluruh desa di Kecamatan Pabuaran telah memiliki regulasi dasar berupa Surat Keputusan (SK) Desa Siaga terkait penanggulangan dan pencegahan TBC-HIV. SK tersebut menjadi landasan setiap desa untuk menyiapkan dukungan anggaran, termasuk alokasi dana desa yang tahun depan diwajibkan menyisihkan 5% untuk program kesehatan prioritas seperti TBC.
“Untuk penanganan TB, semua desa Alhamdulillah sudah memiliki SK Desa Siaga penanggulangan dan pencegahan TB-HIV. Artinya, ketika SK itu diterbitkan, sudah ada persiapan anggaran dari masing-masing desa,” ujarnya Selasa (2/11/2025).
Menurutnya, desa memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan TBC. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan desa untuk mendukung program, diantaranya, memberikan pelatihan kepada kader agar mampu melakukan deteksi dini TBC di masyarakat, menguatkan kegiatan penyuluhan dan edukasi mengenai pencegahan penularan TBC dan menyediakan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) bagi warga terdampak, apabila memungkinkan.
“Peran desa sangat penting. Minimal memberikan penyuluhan dan pelatihan kader terkait deteksi dini TB, pencegahannya, dan jika memungkinkan menyediakan PMT bagi warganya,” kata Maftuhah.
Maftuhah juga mengungkapkan jumlah kasus TBC yang terdata di Puskesmas Pabuaran sepanjang tahun 2025.
“Yang TB ada 102 kasus, tercatat di Pabuaran. Itu yang sekarang sedang menjalani pengobatan,” ungkapnya.
Namun, ia menyebut masih ada tantangan berupa pasien yang mangkir dari pengobatan, yakni sekitar 10 persen. Mangkir berarti pasien tidak datang mengambil obat sesuai jadwal, biasanya setelah tiga hingga empat bulan pengobatan.
“Yang mangkirnya kurang lebih 10 persen. Mereka seharusnya datang, tapi ada yang tiga bulan tidak datang atau empat bulan tidak datang,” jelasnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Puskesmas Pabuaran tidak tinggal diam. Petugas aktif mengirimkan obat langsung kepada pasien yang tidak hadir dengan tujuan agar pengobatan tidak terputus.
“Kita berusaha mengirimkan obatnya karena kita ingin mereka tidak putus berobat dan tidak menjadi resisten,” tegas Maftuhah.
Dengan adanya SK Desa Siaga, maftuhah yakin dengan dukungan anggaran desa, serta koordinasi lintas sektor, Puskesmas Pabuaran berharap penanggulangan TBC di tahun 2026 lebih maksimal dan angka keberhasilan pengobatan dapat meningkat. (dkm)

