
SERANG, Mediabooster.news – Di tengah gemerlap sepak bola modern yang dikuasai kapital dan ambisi juara, nama Sarman El Hakim muncul sebagai anomali. Sosok ini tak membawa nama besar klub, tak menggandeng investor, tak pula sibuk mendatangkan pelatih atau pemain asing. ia merawat sesuatu yang pelan-pelan menghilang. Marwah!!! Sebuah kata keramat nenek moyang yang asing bagi anak-ank generasi kekinian.
Melalui gerakan Masyarakat Sepak Bola Indonesia (MSBI), Sarman berkeliling negeri, bukan untuk menawarkan proyek atau produk, tetapi menyulut semangat yang perlahan padam, kecintaan tulus terhadap sepak bola sebagai bagian dari harga diri bangsa.
Dikutip dari CWM News, baru-naru ini, langkahnya membawanya ke Sorong, Papua Barat. Tidak ada panggung megah. Tidak ada sorotan media nasional. Yang ada hanya bendera merah putih yang ia bagikan satu per satu, sambil berkata kepada siapa pun yang sudi mendengar, “Sepak bola bukan soal menang atau kalah. Tapi tentang tanah air.”

Sarman bicara tentang sepak bola yang memersatukan, bukan yang memecah belah dan membuat rakyat bingung dengan drama federasi, dualisme, atau liga-liga sarat konflik. Ia bicara tentang Indonesia yang kembali memiliki wajah sendiri dalam sepak bola, bukan hasil tempelan budaya luar.
“Cita-cita ini gila,” kata seorang rekannya. “Utopis. Tidak realistis.” Tapi Sarman tak goyah. Ia tahu jalannya sepi dan melelahkan. Namun baginya, sejarah kerap lahir dari mereka yang dianggap gila oleh zamannya.
Ia tak butuh tepuk tangan atau sorak sorai. Ia hanya butuh satu hal yakni keyakinan. Dan orang-orang yang bersedia percaya.
Bagi Sarman, ketika marwah sepak bola dijunjung kembali, Indonesia tak lagi hanya jadi penonton dunia, melainkan cermin yang menunjukkan bahwa kekuatan sejati lahir dari kemurnian, bukan kemewahan. (***)
